Susu Sapi Terlalu Asin untuk Bayi


AHLI gizi dari Universitas Bristol menyatakan bayi berusia di bawah 1 tahun tidak boleh diberikan susu sapi karena terlalu asin bagi mereka. Dijelaskannya, susu sapi hampir empat kali lebih asin dari air susu ibu (ASI).

Hal tersebut terungkap setelah uji coba membuktikan bahwa bayi di bawah 12 bulan yang diberikan susu sapi cenderung memiliki kadar garam tinggi. Dr Pauline Emmett dan Vicky Cribb, ahli gizi dari Universitas Bristol, menemukan bahwa 70 persen bayi memiliki terlalu banyak kadar garam dalam tubuh mereka.

Bayi yang mengonsumsi 700 ml susu sapi setiap hari akan mendapatkan 385 mg garam, hampir setengah dari kebutuhan maksimum yang disarankan (1 gram) untuk bayi berusia
sampai 1 tahun. Oleh karena itu, para peneliti memperingatkan, “Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi garam perlu dikurangi secara substansial pada anak-anak dari kelompok usia ini.”

Lebih lanjut, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (2/8), “Bayi membutuhkan makanan
yang khusus dipersiapkan untuk mereka tanpa ditambahkan garam. Penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua harus lebih memahami makanan apa yang cocok untuk bayi mereka. Saran untuk tidak menggunakan susu sapi sebagai makanan utama bayi sebelum usia 12 bulan berlaku untuk semua orang tua.”

Memberikan bayi terlalu banyak garam dalam makanan mereka dapat membuatnya kurang mampu merasakan makanan kala dewasa. Dari sisi kesehatan, terlalu banyak memberikan garam pada bayi bisa meningkatkan tekanan darah. Selain itu, pemberian garam terlalu banyak untuk anak-anak juga dapat merusak ginjal mereka.

Alternatif Sehat bagi Si Kecil


TUBUH bayi itu tampak kurus dan lemah. Terdapat benjolan sebesar bola bekel di selangkangan dan ketiaknya. Kondisi bayi empat bulan itu sudah kritis ketika dibawa ibunya ke Layanan Kesehatan Cuma-cuma, Jakarta. Dokter yang memeriksa menyimpulkan bayi itu sakit karena keracunan susu formula. Ibu sang bayi mengaku menderita hepatitis sehingga tidak mampu menyusui.

Melihat kondisi tersebut, Sekretaris Jenderal Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Farahdibha Tenrilemba kemudian memberikan akses kepada bayi itu agar mendapat donor air susu ibu (ASI). Selain itu, sang ibu diberi pelatihan agar dapat menyusui bayinya. Mengurangi ketergantungan bayi pada susu formula, menurut dia, bukan perkara gampang. Perubahan rasa manis ke tawar biasanya menjadi penyebab bayi tidak menyukai ASI. Namun, dengan proses merangsang produksi ASI atau relaktasi, kendala tersebut bisa disiasati.

Banyak alasan para ibu tidak memberikan ASI eksklusif. Sebagian besar, menurut Farahdibha, karena faktor psikologis. Tekanan pekerjaan, produksi ASI sedikit, dan tidak adanya dukungan keluarga biasanya menjadi pemicu. Padahal, secara statistik, hanya satu dari seribu ibu yang tidak dapat menyusui bayinya. Namun ada juga alasan medis yang membuat wanita tidak dapat menyusui, seperti terinfeksi HIV, tuberkulosis, atau kekurangan gizi. Jika hal itu terjadi, susu formula bisa menjadi pilihan terakhir dalam mencukupi kebutuhan gizi bayi.

Susu formula berasal dari susu sapi segar yang telah melewati proses pasteurisasi atau pemanasan pada suhu tinggi. Beberapa produsen kemudian menambah kandungan kalori, protein, dan mineral yang tinggi pada susu, sebelum dikemas dengan steril. Jenis susu ini mudah diserap pencernaan bayi karena memiliki komposisi lemak yang tidak panjang.

Menurut Sekretaris Jenderal Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia dokter Saptawati Bardosono, penggunaan susu formula harus berdasarkan rekomendasi dokter. Komposisi susu formula memang disusun mendekati gizi ASI. Tapi produk itu bukan berarti tanpa risiko bagi si kecil. Penelitian yang dilakukan di negara maju menunjukkan ada banyak risiko dari meminum susu formula. Infeksi telinga tengah, diare, asma, kegemukan, diabetes melitus, dan sindrom kematian bayi mendadak hanyalah sebagian risikonya bila susu itu digunakan secara tak hati-hati.

Karena itu, ahli naturopati Riani Susanto merekomendasikan bayi meminum susu organik yang berasal dari hewan atau tumbuhan sebagai pengganti susu formula. Susu kemasan ataupun formula yang berasal dari perahan sapi industri, menurut dia, tidak aman dikonsumsi. Sapi-sapi itu biasanya telah disuntik hormon dan diberi antibiotik sehingga mencemari susu.

Hewan-hewan yang menghasilkan susu organik dipelihara secara alami di lahan terbuka, tanpa diberi hormon, antibiotik, atau rekayasa genetik. Untuk susu dari kedelai, tanamannya tidak diberi pestisida dan bahan kimia lain. Produk akhir susu organik diolah tanpa perasa dan pemanis buatan. Proses pembuatan ini menjadikan harganya lebih mahal dibanding susu kemasan lain. Di negara maju, jenis susu tersebut sudah banyak diproduksi. Alokasi subsidi pemerintah ke sektor peternakan turut mendorong keberhasilan produk tersebut. Para peternak menjadi melek teknologi dan sadar pada kelestarian lingkungan serta risiko kesehatan.

Di Indonesia, produk susu organik masih jarang diperjualbelikan. Para peternak lokal masih dalam tahap menyediakan susu segar. Hewan atau tanaman penghasil susunya belum diolah secara organik. Susu segar lokal biasanya telah melewati proses pasteurisasi, kemudian dikemas dengan steril, tanpa tambahan kandungan gizi. Namun, karena susu segar biasanya berasal dari industri rumahan, faktor kebersihan dan kandungan nutrisi di dalamnya biasanya tidak terjamin. Saptawati tidak menyarankan anak berumur di bawah satu tahun mengkonsumsi susu segar.

Susu sapi murni memiliki kandungan protein dan garam mineral tinggi. Hal ini membuat susu sulit dicerna usus bayi dan membebani fungsi ginjal. “Kandungan gizi susu sapi murni tidak sesuai dengan kebutuhan bayi,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Hal serupa terjadi untuk susu yang berasal dari hewan lain. Susu kedelai, menurut dia, bukanlah susu, dalam arti bisa memberikan zat gizi untuk bayi. Ia menyarankan bayi yang diberi susu kedelai tetap diberi ASI atau susu formula sesuai dengan rekomendasi dokter.

Orang tua bisa memberikan susu segar kepada anak berusia satu hingga lima tahun, sebagai alternatif susu sapi formula. Metabolisme anak umur satu hingga lima tahun sudah dapat mengkonsumsi susu cair. Dari segi harga, susu segar relatif lebih murah dibanding susu formula. Bahan bakunya bisa berasal dari susu hewan atau kedelai.

Selain dari sapi, susu segar yang umum dipasarkan saat ini adalah susu kambing. Susu ini memiliki asam lemak lebih pendek ketimbang susu sapi sehingga mudah dicerna anak. Selain itu, susu kambing bisa menjadi pilihan untuk anak yang menderita alergi terhadap susu sapi, baik dalam bentuk bubuk maupun cair. Alergi bisa terjadi karena anak tidak punya atau kekurangan enzim laktase sehingga tidak mampu mencerna laktosa dalam susu sapi.

Kandungan serat susu kedelai bermanfaat memberikan energi pada anak, ditambah lagi vitamin B, E, dan K yang terdapat pada susu ini. Meski kandungan proteinnya lebih rendah dibanding susu sapi-dua gelas susu kedelai setara dengan satu gelas susu sapi-harganya lebih murah daripada susu jenis lain, menjadikan susu kedelai sebagai alternatif yang baik.

Food microbiologist Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Endang Sutriswati Rahayu, menyarankan alternatif produk susu fermentasi menggunakan kultur bakteri asam laktat lokal. “Cuma, komersialisasi produk ini masih sulit. Harganya tak terjangkau,” ujarnya kepada Pribadi Wicaksono dari Tempo biro Yogyakarta.

Dokter spesialis anak Rifan Fauzie menilai anak berumur satu hingga lima tahun membutuhkan susu sebagai pelengkap gizi. Untuk anak yang sudah dapat menerima makanan padat, asupan protein bisa diperoleh dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan.

Orang tua yang memilih susu segar untuk anak harus memperhatikan proses penyajian dengan benar. Sering kali, dalam proses pasteurisasi ataupun pemanasan, kandungan vitamin dan mineral pada susu malah hilang. Ditambah lagi, pemrosesan yang tidak benar membuat bakteri jahat pada susu masuk ke tubuh anak.

Jika bayi tidak memiliki akses terhadap ASI dan susu formula karena faktor keuangan, Rifan menyarankan orang tua kembali ke air tajin. Air ini merupakan cairan hasil dari menanak nasi. Dalam kandungannya terdapat karbohidrat yang berasal dari beras, tapi gizinya jauh di bawah susu hewan, susu kedelai, ataupun ASI. “Ini harus alternatif paling akhir.”

Karakteristik Susu Kambing


Karakteristik Susu Kambing

Berbicara mengenai susu sungguh merupakan hal yang menarik. Kebutuhan konsumsi susu dari tahun ke tahun semakin meningkat, dan hal ini merupakan nilai peluang yang perlu dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan dan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat akan susu. Pernah tidak terlintas dalam pikiran kita, jika bayi-bayi di Indonesia tidak mendapatkan konsumsi susu yang cukup, maka yang akan terjadi adalah akan terjadi kekurangan gizi dan bahkan dapat terjadi kasus gizi buruk pada balita. Hal ini merupakan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi jika kita mengantisipasinya sejak awal.

Susu sudah sejak lama menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia. Saat ini susu yang banyak dikonsumsi di masyarakat berasal dari susu sapi. Bagaimana dengan susu-susu dari ternak selain ternak sapi. Hal ini merupakan tema yang menarik untuk dikaji. Mengingat ternak yang dibudidayakan di Indonesia tidak hanya sapi perah, melainkan saat ini sudah ada yang mengembangkan susu kambing perah, susu kerbau dan susu kuda Sumbawa. Pada kesempatan ini kita akan coba menganalisa susu kambing yang jika kita amati semakin meningkat skala usahanya. Susu kambing memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan susu yang berasal dari ternak sapi. Situasi ini akan sangat mendorong dan memotivasi peternak Indonesia untuk mengembangkan ternak kambing perah sebagai komoditas unggulan bangsa Indonesia.

Ternak kambing perah saat ini sudah banyak dikembangkan di Indonesia. Salah satu daerah yang aktif mengembangkan kambing perah adalah daerah Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. Di daerah ini dapat ditemukan kambing perah Peranakan Etawah (PE) mulai dari kualitas Grada A, Grade B maupun Grade C. Kambing perah ini memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan kambing perah jenis lainnya.

Susu kambing saat ini identik dengan susu yang memiliki nilai nutrisi dan nilai medis sejak jaman dahulu. Susu kambing dapat digunakan untuk mencegah maupun untuk mengobati penyakit tertentu. Mengingat dari keadaan bangsa kita yang masih kekurangan susu dan masih harus mengimpor susu, maka susu kambing yang memiliki nilai gizi tidak jauh berbeda dengan susu sapi sebaiknya dilakukan suatu tindakan untuk memanfaatkan susu kambing dalam pemenuhan kebutuhan susu di Indonesia.

Langkah utama yang harus dilakukan dalam rangka memanfaatkan susu kambing ini adalah dengan cara mengenali karakteristik susu kambing. Susu kambing jika dibandingkan dengan susu sapi memiliki perbedaan. Susu kambing memiliki warna yang lebih putih dibandingkan dengan susu sapi yang berwarna agak kekuningan. Hal yang perlu digarisbawahi disini bahwa lemak kambing ternyata lebih mudah dicerna dan globular lemaknya lebih kecil.

Susu kambing juga dapat diolah menjadi bahan olahan yang dapat menjadi produk unggulan di masyarakat. Susu kambing dapat dimanfaatkan untuk membuat keju dan bahkan pada beberapa institusi pendidikan tinggi program studi Teknologi Hasil Ternak sudah ada yang meneliti pembuatan es krim dari susu kambing. Tentu berdasarkan hal ini masih terbuka peluang yang sangat besar untuk dapat mengembangkan olahan dari susu kambing yang tentunya akan disukai dan digemari oleh masyarakat atau konsumen.

Kandungan gizi dari susu kambing juga tidak kalah dengan kandungan nutrisi dari susu sapi. Susu kambing mengandung kalsium, fosfor, dan vitamin yang tinggi. Susu kambing juga dapat dimanfaatkan oleh orang yang alergi mengkonsumsi susu sapi atau yang mengalami gangguan pencernaan jika mengkonsumsi susu sapi. Keunggulan dari karakteristik susu kambing yaitu, produksinya dapat lebih cepat dibandingkan dengan susu dari sapi perah, karena ternak kambing pada umur kurang lebih 1,5 bulan sudah dapat memproduksi susu sedangkan sapi perah membutuhkan waktu 3 sampai 4 tahun untuk dapat berproduksi susu secara maksimal dan kontinyu.

Saat ini masa depan generasi penerus bangsa ada ditangan kita, jangan biarkan anak-anak kita dan generasi muda kita kekurangan gizi khususnya dari susu. Mari kita kembangkan bangsa kita menjadi bangsa yang selalu mengkonsumsi susu setiap hari. Jika kita tidak berusaha memulai dari sekarang dan kita yang bukan memulai, lalu siapa lagi yang akan peduli dengan nasib bangsa kita. Mari kita kembangkan kesadaran akan pentingnya minum susu. Anda merupakan orang yang peduli dengan nasib bangsa ini bukan?. Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi motivasi kita untuk mengembangkan budaya minum susu melalui pengenalan karakteristik susu kambing.

Beralih ke Susu Kambing


Isu kontroversial pencemaran bakteri enterobacter sakazakii pada susu formula bayi membuat para ibu memilih kembali memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya. Namun bagaimana bila hal itu tak memungkinkan karena alasan medis atau saat sang ibu harus bekerja? Susu kambing bisa menjadi pilihan.

Dibandingkan susu sapi atau susu formula, susu kambing jauh lebih aman dan tidak menyebabkan alergi. Susu kambing memiliki kandungan flourine dan protein tinggi. Bahkan, protein dalam susu kambing terhitung terbaik setelah telur dan hampir setara dengan ASI. Susu kambing terbaik adalah susu segar (raw goat milk).

Kandungan fluorine yang terdapat pada susu kambing berkisar 10 sampai 100 kali lebih besar dibandingkan susu sapi. Fluorine bermanfaat sebagai antiseptik alami dan dapat membantu menekan pembiakan bakteri di dalam tubuh. Juga bisa membantu pencernaan dan menetralisir asam lambung, menyembuhkan reaksi-reaksi alergi pada kulit, saluran napas dan pencernaan.

Hal tersebut telah dibuktikan seorang ahli nutrisi Amerika, Dr Bernard Jensen. “Karena kandungan gizinya, susu kambing bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Bernard. Ia juga merekomendasikan susu kambing untuk bayi, anak-anak maupun orang dewasa yang alergi terhadap susu sapi.

Gejala alergi terhadap protein susu biasanya timbul pada bayi berumur dua sampai empat minggu. Gejala ini semakin jelas pada saat bayi berumur enam bulan. Bagian tubuh yang terserang alergi adalah saluran pernapasan dan kulit. Namun gejala alergi ini sangat sedikit terjadi pada pengkonsumsi susu kambing. “Sebanyak 40 persen orang-orang yang alergi terhadap susu sapi memiliki toleransi yang baik terhadap susu kambing,” kata Bernard.

Keunggulan lain susu kambing adalah susu lebih mudah dicerna.

Sumber: Suara Merdeka

Susu Kambing Lebih Mudah Dicerna Bayi


Air Susu Ibu (ASI) masih menjadi makanan terbaik untuk balita. Tapi beberapa ibu juga percaya susu kambing punya khasiat bagus untuk bayi. Apa saja khasiat susu kambing ini?

“Saya sering menyarankan orangtua untuk memberikan susu kambing pada bayinya, terutama bagi mereka yang memiliki masalah pencernaan atau tidak bisa menoleransi susu sapi. Hal ini karena susu kambing lebih mudah dicerna,” ujar Dr. William Sears, seperti dikutip dari Parenting.com, Jumat (4/2/2011).

Dr Sears menuturkan beberapa orangtua sering melaporkan reaksi alergi dari bayinya akan hilang atau membaik setelah diberikan susu kambing.

Berikut ini beberapa alasan yang membuat susu kambing lebih mudah dicerna oleh bayi yaitu:

1. Mengandung protein alergi yang lebih sedikit.
Gumpalan protein dari susu kambing yang dibentuk oleh asam lambung pada protein (dadih) akan lebih mudah dicerna oleh bayi. Kondisi ini bisa memberikan manfaat lebih terutama bagi bayi yang sering muntah atau memiliki kondisi gastroesophageal refluks (GER) atau masalah pencernaan.

2. Lemaknya lebih mudah dicerna.
Tetesan lemak dalam susu kambing lebih mudah dicerna karena mengandung jumlah asam lemak rantai pendek dan menengah yang lebih tinggi. Kondisi ini memungkinkan bagi enzim usus untuk lebih mudah mencernanya.

3. Mengandung laktosa yang lebih sedikit.
Susu kambing diketahui mengandung jumlah laktosa yang lebih sedikit yaitu sebesar 4,1 persen dibandingkan dengan susu sapi sebesar 4,7 persen. Ada kemungkinan hal inilah yang membuat bayi lebih sedikit mengalami intoleransi dengan laktosa akibat susu kambing.

Susu kambing diketahui mengandung kalsium, vitamin B6, vitamin A, potasium, niasin dan antioksidan selenium yang sedikit lebih tinggi dibanding dengan susu sapi. Tapi kandungan asam folat dalam susu kambing ini lebih sedikit.

Meski begitu, American Academy of Pediatrics tidak merekomendasikan penggunaan susu kambing bagi bayi berusia di bawah 1 tahun, karena ASI masih menjadi satu-satunya pilihan untuk bayi.

Namun jika bayi mengalami alergi terhadap susu sapi, terkadang bayi lebih cocok menggunakan susu kambing tapi itu pun harus melalui konsultasi terlebih dahulu dengan dokter anak atau ahli gizi anak.

Sumber: Detik

Alergi Susu Sapi? Coba Susu Kambing


Dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing punya beberapa keunggulan sebagai makanan tambahan bagi anak balita. Selain lebih mudah dicerna, susu kambing mengandung lebih banyak mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak.

Di kalangan masyarakat luas, terutama di negara berkembang, pengertian susu lebih mengacu pada produk susu sapi. Di Amerika saja tidak kurang dari 10 juta sapi dipelihara dan menghasilkan sekitar 56,7 juta ton susu. Padahal, selain sapi, ternak lain yang sangat potensial menghasilkan susu adalah kambing. Saat ini susu kambing mulai populer di Indonesia walaupun penyediaannya belum sebanyak susu sapi.

Jika pada sapi perah dikenal keturunan Holstein sebagai penghasil susu utama, di “keluarga” kambing yang terkenal sebagai penghasil susu berkualitas tinggi dengan kandungan lemak rendah adalah jenis Saanen. Jenis Nubian menghasilkan sedikit susu, tetapi berkadar lemak tinggi. Jenis Toggenburg, LaMancha, Oberhasli, dan Alpine termasuk penghasil susu kualitas menengah.

Bagaimana rasanya? Susu kambing yang berlemak tinggi tentu jauh lebih nikmat dibandingkan dengan yang berlemak rendah. Namun, konsumsi susu berlemak tinggi berpotensi menyebabkan obesitas.

Susu kambing memang memiliki karakteristik yang berbeda dengan susu sapi ataupun ASI. Susu kambing memiliki daya cerna protein yang tinggi dan rasa asam yang sangat khas.

Aroma kambing
Ada masyarakat yang beranggapan bahwa susu kambing beraroma seperti kambing. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Adanya aroma yang mengganggu sangat tergantung dari cara pengolahan susu tersebut.

Bau kambing pada susu kambing sebenarnya merupakan dampak dari wadah susu yang tercemar aroma yang dihasilkan oleh kelenjar kambing. Jika pengolahan dilakukan secara benar, susu kambing tidak akan memiliki aroma yang terlalu mengganggu.

Pengaturan konsumsi pakan juga memengaruhi kualitas susu kambing. Hal serupa juga berlaku pada susu sapi. Untuk menambah selera, terutama bagi mereka yang mempunyai indra penciuman yang sangat sensitif, konsumsi susu kambing juga dapat dicampur dengan flavor lain, seperti cokelat, vanila, atau stroberi.

Susu kambing yang terbaik untuk dikonsumsi adalah dalam bentuk segar (raw milk) karena kandungan gizinya belum banyak yang hilang akibat proses pengolahan. Sayangnya, tidak semua orang bisa mengonsumsi susu kambing segar. Bentuk olahan susu kambing yang lain adalah susu pasteurisasi, yoghurt, es krim, dodol, ataupun kefir (susu asam).

Susu kambing mempunyai struktur dan ukuran lemak yang lebih kecil dibandingkan dengan susu sapi sehingga lemak mudah sekali larut dan tercampur secara lebih merata (homogen). Hal itulah yang menyebabkan susu kambing terasa lebih halus dan lembut. Di sisi lain, susu kambing mempunyai kandungan lemak relatif lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi.

Mudah dicerna
Dalam beberapa hal, susu kambing juga mempunyai keunggulan dibandingkan dengan susu sapi. Kandungan asam lemak pada susu kambing jauh lebih banyak dibandingkan dengan susu sapi atau susu kedelai. Namun, dibandingkan dengan asam lemak pada susu sapi, susu kambing lebih banyak mengandung asam lemak berantai pendek dan sedang.

Hal tersebut menyebabkan lemak susu kambing lebih mudah dicerna tubuh untuk menghasilkan energi sehingga tidak tertimbun sebagai lemak atau kolesterol. Dengan demikian, kekhawatiran menjadi gemuk atau terserang penyakit yang berkaitan dengan kolesterol tidak perlu terjadi.

Dari hasil penelitian Mack pada tahun 1953 terbukti, kelompok anak yang diberi susu kambing memiliki berat badan, mineralisasi kerangka, kepadatan tulang, vitamin A plasma darah, kalsium, tiamin, riboflavin, niasin, dan konsentrasi hemoglobin yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok anak yang diberi susu sapi.

Selain itu, susu kambing juga memiliki kapasitas buffer yang lebih baik sehingga bermanfaat bagi anak yang mengalami gangguan pencernaan. Namun, susu kambing juga memiliki kelemahan, yakni kandungan asam folat dan vitamin B12-nya lebih rendah daripada susu sapi.

Susu kambing juga mengandung lebih sedikit orotic acid. Relatif rendahnya kandungan senyawa tersebut berpengaruh baik terhadap pencegahan sindroma perlemakan hati. Hal itu menyebabkan susu kambing sangat baik untuk menjaga kesehatan hati.

Kalsium lebih tinggi
Kandungan kalsium pada susu kambing jauh lebih baik daripada susu sapi atau kedelai, yaitu dalam 100 gramnya masing-masing mengandung 133, 100, dan 15 mg (lihat Tabel 2). Demikian juga dengan kadar fosfornya. Kadar fosfor dalam 100 gram susu kambing, susu sapi, dan susu kedelai adalah 110, 90, dan 49 mg.

Konsumsi segelas susu kambing dapat memenuhi 32,6 persen kebutuhan tubuh akan kalsium dan 27 persen kebutuhan tubuh akan fosfor setiap hari. Sebaliknya, segelas susu sapi hanya memenuhi 29,7 persen kebutuhan tubuh akan kalsium dan 23,2 persen fosfor setiap hari.

Kalsium sangat penting untuk pertumbuhan tulang. Selain itu, kalsium juga penting untuk melindungi sel-sel di kolon (usus besar) agar terhindar dari kanker. Kalsium juga dapat mengurangi angka kejadian tulang keropos (osteoporosis), terutama pada ibu-ibu yang sudah memasuki masa menopause.

Manfaat lain dari kalsium adalah mencegah migrain dan mengatur tekanan darah. Menurut sebuah publikasi pada The American Journal of Clinical Nutrition, seorang gadis yang baru mengalami menstruasi sebaiknya diberi asupan susu kambing untuk menjaga kandungan kalsium di dalam tubuhnya.

Kadar protein susu kambing tidak jauh berbeda dengan susu sapi. Konsumsi satu gelas susu kambing dan susu sapi masing-masing dapat memenuhi 17,4 dan 16,3 persen kebutuhan tubuh akan protein setiap hari. Protein merupakan zat gizi yang sangat dibutuhkan untuk mendukung proses tumbuh kembang pada anak. Pada orang dewasa, protein sangat dibutuhkan untuk pemeliharaan jaringan dan penggantian sel tubuh yang rusak.

Susu kambing juga dipercaya dapat mengatasi penyakit darah tinggi karena kandungan kaliumnya yang tinggi. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kandungan kolesterolnya yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi. Karena itu, susu kambing tidak disarankan bagi mereka yang menderita obesitas dan kolesterol tinggi.

Seperti halnya susu sapi, susu kambing juga mengandung laktosa yang cukup tinggi meskipun sedikit lebih rendah daripada susu sapi. Kadar laktosa pada susu kambing dan susu sapi  mencapai 4,1 dan 4,7 persen dari total padatan. Karena itu, penderita lactose intolerance sebaiknya menghindari konsumsi susu kambing dalam keadaan segar. Susu kambing dapat juga dikonsumsi dalam bentuk olahan, seperti yoghurt maupun kefir yang memiliki kadar laktosa rendah.

Pengganti susu sapi
Pada bayi sering ditemukan kasus alergi terhadap susu sapi. Susu sapi merupakan salah satu bahan pangan penyebab alergi yang paling sering terjadi pada anak-anak. Penyebab alergi lain yang potensial adalah telur, udang, dan ikan.

Hippocrates pertama kali melaporkan adanya reaksi alergi terhadap susu sapi sekitar tahun 370 Masehi. Dalam beberapa dekade belakangan ini, prevalensi dan perhatian terhadap alergi susu sapi semakin meningkat.

Beberapa penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa prevalensi alergi susu sapi dalam tahun pertama kehidupan anak sekitar 2 persen. Sekitar 1-7 persen bayi menderita alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Perlu diingat bahwa sekitar 80 persen susu formula bayi yang beredar di pasaran ternyata menggunakan bahan dasar susu sapi.

Alergi merupakan masalah yang tidak boleh diremehkan. Reaksi yang ditimbulkan dapat mengganggu semua organ tubuh dan perilaku anak sehingga bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada tahun pertama kehidupan anak, sistem imun tubuhnya relatif masih sangat lemah dan rentan.

Gejala alergi terhadap protein susu biasanya timbul pada bayi yang berumur dua sampai empat minggu dan gejalanya akan semakin jelas saat usia enam bulan. Bagian tubuh yang terserang alergi adalah saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan kulit. Gejala yang tampak akibat alergi terhadap protein susu antara lain muntah, diare, penyerapan zat gizi yang kurang sempurna, asma, bronkitis, migrain, dan hipersensitif.

Menurut Judarwanto (2000), alergi susu sapi 80 persen akan menghilang atau menjadi toleran sebelum anak berusia 3 tahun. Upaya penanganan terhadap alergi susu sapi adalah menghindari konsumsi susu sapi dan makanan lain yang mengandung susu sapi. Sebagai penggantinya, dapat digunakan susu kedelai atau susu kambing.

Sekitar 20-50 persen dari bayi yang diteliti memperlihatkan gejala tidak toleran terhadap susu kedelai. Karena itu, susu kambing lebih direkomendasikan sebagai pengganti susu sapi pada bayi yang menderita alergi.

Susu kambing dilaporkan telah banyak digunakan sebagai pengganti ataupun bahan pembuatan makanan bagi bayi yang alergi terhadap susu sapi. Alergi pada saluran pencernaan bayi dilaporkan berangsur-angsur dapat disembuhkan setelah diberikan susu kambing.

Menurut Noor (2002), sekitar 40 persen pasien yang alergi terhadap protein susu sapi memiliki toleransi yang baik terhadap susu kambing. Pasien tersebut kemungkinan besar sensitif terhadap laktoglobulin yang terkandung dalam susu sapi. Diduga bahwa laktogloglobulin (salah satu komponen protein susu) merupakan komponen yang paling bertanggung jawab terhadap kejadian alergi protein susu.

Menurut Judarwanto (2000), terdapat lebih dari 40 jenis protein pada susu sapi yang dapat menyebabkan alergi. Selain betalaktoglobulin, komponen protein lain seperti kasein, alfa-laktalbumin, serum albumin, dan immunoglobulin juga dapat menyebabkan alergi.

Sumber: Kompas

Terobosan Para Ahli Buat Kambing Hasilkan Jaring Laba-Laba


Sebuah perternakan di Wyoming, Amerika Serikat mengeluarkan produk baru yang unik, benang laba-laba dari susu kambing.

Kedengarannya aneh, namun pakar biologi molekul, Randy Lewis optimistis dalam dua tahun, benang laba-laba dari susu yang dihasikan kambing bisa mengatasi kelelahan tubuh atau ketegangan otot dan ikatan sendi, bahkan masalah tulang.

Profesor Lewis dan timnya di Universitas Wyoming telah berhasil mengimplantasi atau menanam gen pembuat jaring dari laba-laba jenis golden orb ke dalam tubuh beberapa kambing. Dan saat ini, mereka bisa memproduksi salah satu produk alami paling kuat dalam jumlah yang bisa diaplikasikan.

Teknologi ini memang sebuah terobosan, namun bukan pengetahuan yang sama sekali baru. Jaring laba-laba telah digunakan berabad-abad untuk membungkus luka. Masalahnya, baru kini diketahui bagaimana untuk mendapatkannya dalam jumlah besar.

“Kami membutuhkan cara untuk memproduksi protein jaring laba-laba dalam jumlah besar,” kata Profesor Lewis kepada Kantor Berita News.com.au. “Laba-laba tak bisa diternakkan, maka beternak binatang itu tak jadi pilihan,” kata dia.

Apalagi, laba-laba punya kecenderungan untuk saling memakan satu sama lain, memanen benang dari laba-laba tak akan pernah mencukupi kebutuhan manusia.

Para ilmuwan lantas membuat terobosan. Mereka menanam DNA penghasil benang dari laba-laba ke kambing betina.

“Penyambungan ternyata relatif mudah karena ada gen promotor aktif di kelenjar susu kambing,” katanya.

Bagaimana cara kambing menghasilkan benang laba-laba?

Menurut Lewis, susu dari kambing khusus yang ditanami DNA laba-laba itu dikumpulkan lalu dibawa ke laboratorium. Di sana, protein benang laba-laba akan dipisahkan. Protein ini akan mengeras dan lalu dipintal seperti benang.

Lewis mengatakan, tim mengumpulkan sekitar empat meter benang laba-laba dari tiap empat tetes protein yang mereka kumpulkan.

Benang ini punya kegunaan yang luas dalam hal kesehatan, sebagai pengikat, termasuk penggantian ikatan sendi.

“Jika ini berhasil, terus terang salah satu aplikasi pertama adalah mungkin tali pancing,” kata Lewis. Ilmuwan masih perlu waktu dua tahun untuk mengkaji bahan ini sampai bisa dilemparkan ke pasar.

Terkait nasib kambing yang jadi bahan percobaan, Lewis mengatakan tak ada bukti yang mengarah bahwa kambing tersebut mengalami gangguan fisik maupun psikologis.

Ditambahkan Lewis, ilmuwan sedang mengembangkan teknologi yang sama pada ternak jenis, alfalfa.

Begitu juga dengan di Australia, para ahli menemukan bahwa laba-laba telah menggunakan cahaya ultraviolet dalam jaringnya untuk memikat mangsanya datang. Hal tersebut terungkap setelah para peneliti di Australia meneliti rahasia di balik jaring yang cantik tersebut. Selama ini jaring laba-laba dikenal sangat lengket dan kuat, bahkan melebihi baja, namun jarang diteliti aspek bentuknya.

“Kami benar-benar ingin mengungkap mengapa laba-laba menghabiskan energi untuk menghias jaringnya,” ujar Dieter Hochuli dari Universitas Sydney, Australia. Dalam penelitian tersebut, ia dan timnya menguji pengaruh cahaya utraviolet terhadap efektivitas jerat laba-laba.

Hal tersebut didasari fakta bahwa beberapa jenis bunga memantulkan cahaya ultraviolet yang menarik perhatian serangga. Jika jaring laba-laba memantulkan cahaya yang sama, berarti fungsinya mirip dengan bunga untuk merayu serangga.

Hochuli dan koleganya kemudian melakukan percobaan dengan jaring laba-laba asli dan jaring laba-laba yang dilapisi plastik penyaring ultraviolet. Mereka kemudian memantau berapa banyak serangga yang tertanggap dalam beberapa hari.

Lalat, lebah, tawon, dan nyamuk tertangkap baik di kedua jaring. Namun, pada jaring yang dilapisi plastik antiultraviolet jumlahnya jauh lebih sedikit. Jumlah nyamuk tetap sebanding karena serangga ini tidak dapat melihat cahaya ultraviolet.

“Laba-laba sepertinya memanfaatkan kemampuan sejumlah mangsanya yang dapat melihat cahaya ultraviolet,” jelas Hochuli. Pada penelitian berikutnya para peneliti akan mempelajari pengaruh bentuk sarang yang bervariasi sesuai jenis laba-laba yang membuatnya.

Manfaat jaring laba-laba

Jaring laba-laba dapat dipakai untuk menyambung otot (tendon) atau memulihkan ligamen yang rusak. Selain sangat kuat, serat alami ini tidak menyebabkan infeksi.

Penggunaan serat untuk aplikasi medis sebenarnya telah diceritakan sejak sekitar 2.000 tahun lalu. Di antaranya untuk melawan infeksi, mencegah pendarahan, dan menutup luka.

Meski demikian, para ilmuwan belum menemukan bukti bahwa jaring laba-laba dapat membunuh kuman. Sejauh ini, hasil percobaan pada hewan menunjukkan bukti-bukti awal bahwa jaring laba-laba tidak menghasilkan respon kekebalan terlalu besar sehingga dapat diterima tubuh.

Para peneliti di Universitas Tufts, Massachusetts telah membuktikan bahwa jaring laba-laba dapat dirangkai untuk memulihkan jaringan penyambung tulang (ligamen) yang rusak. Percobaan ini berhasil pada ligamen jenis ACL (anterior cruciate ligament) yang biasanya rusak pada penderita cedera lutut.

“Kami juga melihat potensi jaring laba-laba untuk tendon buatan,” kata Randolph Lewis dari Universitas Wyoming, AS. Para ilmuwan telah memanfaatkannya untuk membuat benang operasi untuk menutup luka bekas operasi, mata, atau, menyambung jaringan syaraf.

Mereka dapat menghasilkan jaring di luar tubuh laba-laba dengan cara menyisipkan gen yang dimiliki laba-laba ke sel yang menjadi targetnya. Penelitian terakhir yang sedang dilakukan Lewis dilaporkan dalam jurnal Chemical Reviews.

Sumber: Suaramedia

Keistimewaan Susu Kambing Dibanding Sapi Dan Kedelai


Susu merupakan minuman yang mempunyai kandungan gizi tinggi dan baik untuk kesehatan. Konsumsi susu setiap hari membantu pertumbuhan.

Meski belum terlalu familiar, namun kandungan fluorine dan protein tinggi pada susu kambing, membuat susu ini banyak diminati keluarga Indonesia. Bahkan, sebagian orang menyukai susu kambing karena teksturnya.

Kandungan fluorine yang terdapat pada susu kambing berkisar antara 10 sampai 100 kali lebih besar dibandingkan susu sapi. Kandungan fluorine bermanfaat sebagai antiseptik alami dan dapat membantu menekan pembiakan bakteri di dalam tubuh.

Sehingga, bisa membantu pencernaan dan menetralisir asam lambung, menyembuhkan reaksi-reaksi alergi pada kulit, saluran napas dan pencernaan. Selain itu, kandungan gizi di dalam susu kambing bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

Jika dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing pun biasanya dikonsumsi sekadarnya saja, atau lebih karena susu ini dianggap mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Susu kambing rata-rata banyak dikonsumsi di Timur Tengah sejak 7000 SM. Padahal, susu kambing memiliki protein terbaik setelah telur dan hampir setara dengan ASI. Susu kambing terbaik adalah susu yang segar (raw goat milk).

Berdasarkan beberapa studi menunjukkan, susu kambing mengurangi terjadinya alergi. Susu ini juga lebih mudah dicerna daripada pilihan susu lainnya. Satu cangkir susu kambing memiliki kandungan sekira 170 kalori, 10 gram lemak, dan 27 miligram kolesterol. Demikian seperti diberitakan dari Shape.

Kendati susu kambing memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, namun proses memasak yang kurang tepat dapat merusak kandungan mineral yang berkhasiat sebagai antiseptik dan pelindung jaringan paru-paru. Namun dengan pengolahan yang baik, susu kambing dapat dikonsumsi dalam bentuk olahan seperti yoghurt dan keju.

Manfaat Susu Kambing

Berdasarkan beberapa informasi yang didapat dari berbagai sumber, berikut ini manfaat dari susu kambing:

Pengganti Bagi Yang Alergi Dengan Susu Sapi
Susu kambing banyak direkomendasikan sebagai substitusi susu bagi bayi, anak, maupun orang dewasa yang alergi terhadap susu sapi atau jenis makanan lainnya.?Susu kambing kini cukup populer, meskipun harganya jauh di atas harga susu sapi. Susu kambing memang memiliki karakteristik yang berbeda dengan susu sapi maupun air susu ibu ( ASI ). Susu kambing memiliki daya cerna yang tinggi, tingkat keasaman yang khas, kapasitas buffer yang tinggi, dan dapat digunakan untuk mengobati penyakit tertentu.

Susu kambing banyak direkomendasikan sebagai substitusi susu bagi bayi, anak, maupun orang dewasa yang alergi terhadap susu sapi atau jenis makanan lainnya. Pada bayi, alergi terhadap susu sapi (cow milk allergy) banyak dijumpai, akan tetapi mekanisme terjadinya alergi masih belum jelas. Potensi susu kambing sebagai pengganti susu sapi pada bayi atau mereka yang alergi terhadap susu sapi sangatlah besar.

Gejala alergi terhadap protein susu biasanya timbul pada bayi yang berumur dua sampai empat minggu, dan gejalanya akan semakin jelas pada saat bayi berumur enam bulan. Bagian tubuh yang terserang alergi adalah saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan kulit . Gejala-gejala yang tampak akibat alergi terhadap protein susu antara lain yaitu muntah, diare, penyerapan nutrisi yang kurang sempurna, asma, bronkitis, migren, dan hipersensitif.

Susu kambing dilaporkan telah banyak digunakan sebagai pengganti susu sapi ataupun bahan pembuatan makanan bagi bayi-bayi yang alergi terhadap susu sapi. Alergi pada saluran pencernaan bayi dilaporkan dapat berangsur-angsur dapat disembuhkan setelah diberikan susu kambing.

Dilaporkan bahwa sekitar 40% pasien yang alergi terhadap protein susu sapi memiliki toleransi yang baik terhadap susu kambing. Pasien tersebut kemungkinan besar sensitif terhadap lactoglobulin yang terkandung dalam susu sapi. Diduga protein susu ( lactogloglobulin ) adalah yang paling bertanggung jawab terhadap kejadian alergi protein susu.

Susu kedelai sering pula digunakan sebagai salah satu alternatif pengganti susu sapi bagi bayi yang alergi terhadap susu sapi. Walaupun demikian, masih terdapat sekitar 20-50% dari bayi-bayi yang diteliti memperlihatkan gejala tidak toleran terhadap susu kedelai. Oleh sebab itu, susu kambing lebih direkomendasikan untuk pengganti susu sapi pada bayi.

Susu kambing mengandung lebih banyak asam lemak berantai pendek dan sedang jika dibandingkan dengan asam lemak dalam susu sapi. Perbedaan tersebut diduga menyebabkan susu kambing lebih mudah dicerna. Selain itu, ukuran butiran lemak susu kambing lebih kecil jika dibandingkan dengan susu sapi atau susu lainnya.

Dari hasil sebuah penelitian disimpulkan bahwa kelompok anak yang diberi susu kambing memiliki berat badan, mineralisasi kerangka, kepadatan tulang, vitamin A plasma darah, kalsium, tiamin, riboflavin, niacin, dan konsentrasi hemoglobinnya adalah lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok anak yang diberi susu sapi. Selain itu, susu kambing memiliki kapasitas buffer yang lebih baik sehingga bermanfaat bagi anak yang mengalami gangguan pencernaan. Namun, susu kambing juga memiliki kelemahan yaitu rendahnya kandungan folic acid dan vitamin B 12 . Keunggulan Susu Kambing Bau dan rasa susu kambing murni sangat spesifik yaitu sedikit berbau kambing. Ada kalanya bau susu agak tajam karena pengaruh pakan.

Susu kambing murni rasanya enak, sedikit manis, dan berlemak. Dibanding susu sapi, susu kambing memiliki kandungan gizi lebih unggul.

Keistimewaan lain yang dimilikinya sebagai berikut :

Lemak dan proteinnya lebih mudah dicerna daripada susu sapi, karena terdapat dalam bentuk yang lebih halus dan homogen. Mudah dicerna oleh anak balita sampai orang tua.
Proteinnya mempunyai efek laksatif yang lembut.
Kandungan vitamin B-1 susu kambing lebih tinggi dibanding susu sapi.
Susu kambing baik sekali dikonsumsi anak-anak dan orang lanjut usia yang tidak dapat minum susu sapi karena gangguan pencernaan.

Minum segelas susu kambing setiap hari membantu penyembuhan penderita asma dan radang paru-paru kronis.
Minum segelas secara rutin bagi wanita dapat meningkatkan kehalusan kulit.
Minum secara teratur 2 – 3 gelas per hari dapat membantu mengatasi impotensi pada pria.
Sebagai sumber gizi serta mencegah / menyembuhkan TBC pada balita. Tidak menyebabkan diare dan alergi, karena tidak memiliki faktor lactose intolerance.

Susu Kambing nan Istimewa

Kadar nutrisi dan khasiat susu kambing amatlah istimewa. Komposisi gizinya –baik dari segi protein, energi, maupun lemak — mendekati komposisi ASI, air susu ibu. Susu kambing mengandung 3 s/d. 4 % Protein, 4 s/d 7 % Lemak, 4,5 % Karbohidrat, 134 gram Kalsium, dan 111 gram Forfor (dalam setiap 100 ml susu kambing).

Molekul lemak susu kambing pun jauh lebih kecil dan homogen, sehingga lebih mudah dicerna tanpa menimbulkan diare. Jadi, susu ini bebas lactose intolarence (kepekaan terhadap laktosa penyebab diare bagi yang tidak biasa minum susu). Karenanya, susu kambing cukup potensial bagi perbaikan nutrisi.

Komposisi dan struktur lemak susu kambing dan sapi memiliki perbedaan. Butiran lemak susu kambing berukuran 2 mikrometer, sementara lemak susu sapi berukuran 2,5 – 3,5 mikrometer. Dengan ukuran lemak lebih kecil, susu kambing lebih cepat terdispersi dan campurannya lebih homogen (merata).

Sumber: Suaramedia

Setengah Liter Susu Per Hari Ampuh Tangkal Serangan Kanker Usus


Minum susu tak hanya membantu si kecil tumbuh dan berkembang secara optimal. Bahkan, membiasakan anak mengonsumsi susu setiap hari, bisa mencegah potensi datangnya penyakit kanker usus saat dewasa nanti. “Mungkin karena kandungan kalsium dalam susu,” kata Professor Brian Cox yang memimpin penelitian itu, dikutip dari Times of India.

Menurut data penelitian para ilmuwan dari Selandia Baru itu, anak-anak yang dibiasakan orang tuanya minum susu, 40 persen lebih kecil kemungkinan untuk menderita kanker usus di usia dewasa.

Dari hasil penelitian tersebut, Brian menyarankan agar tiap orang mengonsumsi susu sejak kecil. Jumlahnya pun berkisar setengah liter per hari untuk efek perlindungan yang maksimal dari serangan kanker usus.

Kunci untuk efek anti kanker, menurut penelitian itu, terletak pada konsumsi harian selama waktu yang lama.

”Khasiat susu baru bisa didapat setelah waktu yang lama. Tak bisa instan,” ucap Brian.

Para ilmuwan percaya kandungan kalsium pada susu akan membantu membunuh sel kanker. Dan banyaknya jumlah kalsium dalam tubuh juga dapat membantu menangkal penyakit.

Selain melawan kanker, menurut penelitian, anak usia sekolah yang mengonsumsi susu setiap hari selama enam tahun atau lebih, 40 persen lebih kecil kemungkinan menderita tumor di kemudian hari.

Studi ini dipublikasikan pekan lalu di American Journal of Epidemiology.

”Rahasianya ada di kalsium. Kalsium yang terkandung dalam susu bisa membasmi sel kanker dan menjadi bahan bakar bagi sistem kekebalan tubuh,” kata Brian Cox, ketua penelitian itu seperti dikutip dari situs zeenews.

Kanker usus merupakan jenis kanker yang tak bisa dianggap remeh. Datang tak terduga dan seringkali mematikan. Kanker ini biasa disebabkan oleh pola makan dan gaya hidup yang tak sehat. Salah satunya akibat konsumsi daging yang berlebihan dan kurang serat.

Nutrisi Susu Kambing Setara Susu Manusia


PENELITIAN terbaru yang digelar peneliti Spanyol menemukan bahwa susu kambing memiliki nilai nutrisi yang memiliki nilai nutrisi setara dengan susu manusia.

Para peneliti di University of Granada Departemen Fisiologi dan Institut Gizi dan Teknologi Pangan berkoordinasi dengan Prof Margarita Sanchez Campos telah membuktikan bahwa susu kambing memiliki karakteristik gizi bermanfaat bagi kesehatan.

Penderita anemia yang mengonsumsi susu kambing secara rutin akan mengalami pemulihan. Susu kambing meningkatkan penggunaan gizi zat besi dan meningkatkan regenerasi hemoglobin. Ditemukan pula susu kambing memiliki banyak nutrisi yang berperan sebagai kasein yang membuatnya mirip dengan susu manusia. Susu kambing juga mengandung sedikit alpha kasein 1 yakni senyawa yang bertanggung jawab atas alergi sebagian besar sapi susu. Oleh karena itu, susu kambing termasuk HA atau hypoallergenic.

“Karena itulah, di beberapa negara, formula ini digunakan sebagai dasar untuk pengembangan susu formula bayi,” kata para peneliti seperti dikutip dari Sciencedaily (19/5). Selain itu, manfaat lain susu kambing mengandung sejumlah besar oligosakarida dengan komposisi yang sama dengan susu manusia. Senyawa ini mencapai usus besar dan bertindak sebagai prebiotik dengan membantu mengembangkan flora probiotik yang bersaing dengan flora bakteri pathogen agar menghilang.

Susu kambing mengandung laktosa yang lebih rendah 1 persen daripada susu sapi. Para peneliti menambahkan bahwa susu kambing kaya akan kalsium dan fosfor. Susu ini juga memiliki lebih banyak kandungan seng dan selenium yang berkontribusi penting terhadap pertahanan antioksidan dan untuk pencegahan penyakit neurodegeneratif.

Oleh karena itu, para peneliti menganggap bahwa konsumsi rutin susu kambing harus dipromosikan kepada penduduk dunia.

Sumber: Media Indonesia

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.